#LiveStreaming Semarak Wayang #PesonaIndonesia

#LiveStreaming Semarak Wayang #PesonaIndonesia

CeIJVtnXIAAdNzW
Pementasan Wayang Spektakuler

1. Wayang Ajen = Ki Dalang Wawan Ajen, Pukul 20.30 – 22.30 WIB.

2. Wayang Kulit Indramayu = Ki Dalang H. Anom Rusdi, Pukul 22.30 – 00.30 WIB.

3. Wayang Kulit Tuton = Ki Dalang Bambang Asmoro, Pukul 00.30 – 02.30 WIB.

Lokasi : Parkir Timur Senayan, Jakarta.

Waktu : Sabtu – Minggu, 26 – 27 Maret 2016, pukul 20.00 – selesai

WAYANG TUTON (Wayang Lesung)

Wayang Tuton, di inspirasi oleh semangat gotong royong masyarakat jawa tempo dulu, setelah panen padi mereka secara gotong – royong memisahkan biji padi dari kulitnya dengan alat Lesung dan alu, biji padi yg masih bertangkai setelah dikeringkan ditaruh dalam Lesung kemudian ditumbuk secara bersama-sama antara 4 sampai 6 orang, Kegiatan ini dalam istilah jawa disebut “nutu”, proses ini menmbuk padi secara bergantian dengan media kayu menimbulkan suara nyaring yang disebut “kothekan”.

Lesung adalah; kayu besar dan panjang yang tengahnya di lobangi memanjang, untuk menaruh biji padi, sedangkan “Alu” adalah batang kayu sebesar lengan manusia dengan panjang kira-kira setinggi badan manusia kranglebih 1,5 meter, berbertuk seperti batang pohon lurus yang dikuliti dan kedua ujungnya tumpul. Cara menumbuk adalah dengan mengangkat Alu ke atas dan dihujamkan ke bawah dan kadang menyenggol bibir Lesung, sehingga menimbulkan suara yang ber irama tertentu sehingga menjadi komposisi suara (musik) yang khas dan menarik.

Wayang TuTon (Tuntunan dan Tontonan) atau Wayang Lesung adalah Pengembangan Wayang Kulit Purwa dengan penambahan garap terterntu, menggunakan iringan Kothekan Lesung, gamelan jawa, alat music etnik, modern dll. Wayang Lesung juga memadukan antara wayang kulit, wayang oramg, teater, tari, lawak dan animasi. Durasi pertunjukan agar enak ditonton tidak lebih dari 2 jam. Wayang Tuton tidak sekedar pengembangan wayang yang sudah ada, atau “waton beda” (asal beda) tetapi “beda ning nganggo waton” (beda yang memakai pathokan) dengan mengedepankan “Tuntunan”, selain menyajikan “Tontonan” yang menarik.

Wayang Tuton kemasan baru dari beberapa pengembangan wayang yang sudah ada. Wayang Tuton dikemas untuk sajian masyarakat desa, sampai masyarakat Metropolitan. Durasinya pendek tetapi tidak mengurangi esensi ceritera. Kemasan sajian yang unik, akan menarik minat orang awam diluar pecinta wayang untuk mengenal dan mencintai wayang serta selanjutnya diharapkan mempelajari wayang atau minimal menghargai wayang.

Wayang Lesung dimainkan oleh sekitar 20-30 orang (Dalang, pemusik, penari, pemain Teater, lawak, penyanyi). Wayang Tuton menggunakan Kelir setengah Lingkaran, dan lebih dominan menampilkan bayangan. Hal ini mengembalikan fungsi Wayang Kulit sebagai pertunjukan bayang-bayang yang dalam falsafah jawa “Wewayanganing Ngaurip” gambaran hidup dan kehidupan manusia. Dalam pergelaran Wayang Tuton banyak disampaikan nilai-nilai kehidupan melalui wejangan, dialog, monolog, tembang, iringan dan Lawakan.

Selain itu, “Wayang Tuton” ini juga terinspirasi oleh ceritera Lembu Culung, mitos gerhana bulan di Jawa. Konon Lembu Culung adalah sosok Raksasa yang sakti dan ingin melawan para Dewa dan memakan Bulan agar para dewa kegelapan dan kalah dalam perang. Berkat kesaktiannya al hasil bulan dapat di lumat. Atas kesigapan Sang Hyang Wisnu Lembu Culung di potong lehernya dengan sebilah keris, kemudian gembung jatuh ke bumi.

Dengan mitos ceritera tersebut, saat gerhana bulan, masyarakat tertentu berkeyakinan bulan dimakan Lembu Culung, Maka agar terang bulan lagi atau bulan dimuntahkan oleh Lembu culung, masyarakat pedesaan beramai-ramai memukul Lesung sebagai symbol Gembung atau badan Rembu Culung, agar segera memuntahkan bulan. Sehingga terang benderang kembali dan anak= anak pedesaan bisa dolanan, melakukan gobak sodor, jagoan, jamuran, petak umpet, dan lainya dengan bermandikan cahaya bulan yang indah.

Wayang Lesung selain fungsi hiburan juga bisa digunakan untuk fungsi upacara Ruwatan, LESUNG (Luare Sukerta Hing Angga) Terbebasnya Hal Buruk dalam Jiwa dan Raga manusia. Dalam pementasan Wayang Lesung bisa juga mengambil ceritera Murwakala, yang dalam pagelaran wayang kulit purwa adalah salah satu ceritera dalam tradisi Ruwatan, selain Sudamala dan Kunjara Karna. Tetapi Wayang Lesung juga terbuka untuk pesanan ceritera wayang atau pun rekaan berdasarkan kemauan penanggap atau yang punya hajat. Wayang Lesung hanya sebuah wadah, isi bisa saja diganti dengan berbagai macam hal atau nilai sesuai selera penangggap dan penonton. (BA).

Share Button